Seorang ibu yang sangat berjiwa besar.
Ibu yang sangat dikagumi oleh si bungsu.
Namun si ibu seringkali merasa bahwa ia adalah seorang ibu yang gagal membesarkan anak-anaknya.
Anaknya yang pertama, seorang single parent.
Dia menggeluti usaha di bidang kuliner dan dapat dikategorikan sukses.
Namun sang anak ini tengah terlibat cinta terlarang bersama mantan karyawannya sendiri.
Ibu sangat tidak menyukai hubungan terlarang ini.
Beliau sangat menentangnya.
Apalagi firasatnya sebagai seorang ibu mengatakan bahwa 'pacar' dari si sulung ini hanya memanfaatkan harta yang dimiliki anaknya untuk kesenangannya semata.
Dan entah mengapa nampaknya si sulung sangat membela 'pacar'nya ini.
Anak-anaknya yang hidup di lain pulau seperti dihiraukan.
Selalu saja ada alasan atau komplain yang ia lontarkan saat ia harus mengirimkan uang untuk kedua putranya.
Sepertinya ia lebih memilih untuk memberikan uang pada 'pacar'nya daripada anak-anaknya sendiri.
Ia lebih memilih untuk menghabiskan waktu bersama sang pacar ketimbang ibu kandungnya.
Sang ibu tidak menuntut banyak.
Beliau hanya ingin si sulung menjadi orang tua yang baik bagi kedua putranya.
Menjadi ibu yang bertanggungjawab atas kedua putranya.
Lebih mementingkan kedua belah hatinya daripada sibuk dengan kepentingan pribadi.
Lebih mendahulukan keluarga daripada 'pacar' yang memanfaatkannya saja.
Sang ibu tak menuntut materi, ia hanya butuh quality time.
Putri keduanya, seseorang yang memutuskan untuk menikah di usia belia.
Usianya akan menginjak angka 23 tahun dalam beberapa hari ke depan.
Dia mempunyai seorang putra yang sekitar tujuh bulan lagi akan merayakan ulang ke-4.
Si anak tengah ini tinggal bersama ibunya.
Ia dan suaminya membuka usaha kecil-kecilan di rumah, masih di bidang kuliner tentunya, mungkin bakat di bidang ini diwariskan dari sang Ibu.
Namun sepertinya si anak tengah ini merasa jiwa mudanya terbelenggu.
Ia rindu kebebasan anak-anak muda seusianya.
Ia pun sering bepergian dengan teman-teman sebayanya yang notabene masih berstatus lajang.
Ia seolah merasa sejajar dengan mereka.
Ia memang sejajar dengan mereka dalam hal usia, namun dalam hal status mereka sangatlah berbeda.
Si anak tengah merupakan seorang istri dan seorang ibu.
Sang ibu juga tidak banyak menuntut banyak pada anak keduanya.
Beliau hanya ingin anaknya menyadari perannya, sebagai seorang istri dan seorang ibu.
Beliau ingin putrinya ini memainkan peran yang utuh dalam mengurus suami dan putranya.
Beliau ingin anaknya bertanggung jawab atas keputusannya menikah di usia belia, yang berarti melepaskan masa-masa indah penuh kebebasan demi mengurus keluarga.
Si bungsu.
Putri ketiga dari ibu yang dinobatkannya sebagai IBU LUAR BIASA.
Dia belajar banyak dari kedua kakaknya.
Si bungsu sangat dekat dengan ibunya.
Jika ia mengalami sesuatu, pasti langsung ia ceritakan pada sang ibu.
Begitu pula sang ibu, ia sangat terbuka pada anak bungsunya ini.
Mereka sering menghabiskan waktu bersama hanya sekedar untuk ngobrol.
Dari obrolan antara keduanya, si bungsu merasa bahwa sang ibu merasa gagal mendidik anak-anaknya.
Si bungsu sangat sedih setiap kali ia mendengar keluhan yang keluar dari mulut sang ibu tentang kedua orang kakaknya.
Ia merasakan kesedihan yang sama.
Jiwa dagang sang ibu memang tak terwariskan padanya, tapi kelembutan dan kepekaan hati ini ia yakini berasal dari sang ibu.
Di dalam setiap keluhan yang keluar dari mulut sang ibu, hati si bungsu menangis.
Ia mencoba untuk tetap tegar dalam mendengarkan segala keluh kesah sang ibu.
Semakin sering sang ibu datang bercerita kepadanya, semakin kepahitan itu meracuni hatinya.
Ia tidak merasa benci kepada kedua kakaknya, tapi ia benci karena tidak bisa melakukan apapun.
Tak ada keberanian sedikitpun untuk menegur mereka atau sekedar memberi sinyal bahwa ada sesuatu yang tidak beres.
Tak sanggup lagi si bungsu mendengarkan keluhan dari sang ibu.
Semakin sering sang ibu mencurahkan isi hati kepadanya, maka semakin pedihlah hatinya melihat kenyataan bahwa tak ada yang dapat dilakukannya untuk memperbaiki semua ini.
Namun jika ia berhenti mendengarkan, kepada siapa lagi sang ibu dapat mencurahkan isi hatinya?
Si bungsu mencoba bertahan.
Ia juga membutuhkan seseorang untuk mendengarkannya.
Biasanya ia selalu bercerita pada sang ibu, namun kali ini tidak mungkin rasanya ia bercerita kepada beliau.
Ia hanya menyimpannya sendiri di dalam hati.
Ia ingin sekali berteriak agar beban di dalam hatinya terasa sedikit lebih ringan.
Ia pun memilih berteriak di dalam hatinya.
Biarlah lengkingan ini hanya di dalam hatinya saja dan kekecewaan itu hanya keluar dari tetesan air mata dalam kamar gelapnya yang membuatnya lelah hingga larut dalam tidur malam.
No comments:
Post a Comment