Perasaan yang membuat rasa iri berhasil menyelimuti hati.
Rasa iri itu kian terakumulasi dari hari ke hari.
Sampai akhirnya hari terakhir di tahun 2009 pun tiba.
Sekitar 2 jam sebelum pergantian tahun, tokoh utama itu lewat di hadapanku.
Aku yang sedang memfokuskan diri untuk masuk ke dalam hadirat Tuhan pun terpaksa melihatnya.
Rasa sakit yang sekiranya ingin aku lupakan kembali hadir di dalam perasaan.
Sebelum aku sempat mencerna rasa sakit ini, sebuah hal yang luar biasa terjadi.
Ada bisikan hangat yang mengingatkanku akan berkat yang sudah aku terima selama ini.
Aku pun mulai mengingatnya dan mengucapkan syukur atas semuanya itu.
Air mata mulai mengalir.
Air mata bahagia.
Aku bangga karena aku telah berhasil mempersembahkan sesuatu untuk orangtuaku.
Aku mempersembahkan sesuatu yang merupakan hasil perjuanganku.
Mungkin dia memang memiliki materi yang lebih dari padaku.
Tapi aku punya prestasi yang lebih dari padanya.
Materi bisa saja pergi atau hilang dengan cepat, tapi prestasi yang kupersembahkan untuk orang-orang terkasih pasti akan selalu dikenang.
Tidak ada yang perlu dipikirkan lagi mengenai rasa iri ini.
Terlalu banyak memikirkannya bisa membuat sakit hati.
Akan lebih baik jika otak ini dipakai untuk memikirkan usaha selanjutnya untuk kembali menorehkan prestasi yang dapat dipersembahkan kepada orang-orang terkasih.
Membuat mereka bangga, itu sudah lebih dari cukup.
No comments:
Post a Comment