Sunday, July 12, 2009

Excellent Sacrifice


Excellent sacrifice adalah salah satu kegiatan yang diadakan oleh gereja saya (JPCC) setiap tahunnya.
Tahun-tahun kemarin saya berpikir kalau hal ini hanya untuk mereka yang sudah berkerja saja, yang mempunyai penghasilan sendiri.
Namun tahun ini saya mendapatkan pengajaran bahwa siapa saja boleh turut ambil bagian.

Hati saya tergerak untuk terlibat.
Secara nominal mungkin ini tidak seberapa, namun ini adalah semua yang saya punya.
Semua.

Tidak ada perasaan menyesal sedikitpun.
Sebaliknya saya merasa sangat bersukacita.
I never experienced this kind of feeling before.
Seneng banget.
Ga ada tuh yang namanya perhitungan di dalam otak karena merasa rugi udah ngasih terlalu banyak.
Wow!
Semoga setiap kali saya memberi, saya akan merasakan hal ini.
Semoga ga ada lagi kalkulasi atau hitung-hitungan setelah memberi, terutama memberi untuk Tuhan.

Semoga perasaan memberi dengan mudah ini bukan karena itu adalah uang "gratisan", yang saya sisihkan dari uang yang saya peroleh "gratis" dari orang tua.
Semoga sampai nanti pun jika saya sudah memiliki penghasilan pribadi saya akan tetap memberi dengan penuh kesukaan.

I love You Lord!

Saturday, July 11, 2009

Mirip


Hari ini saya bertemu seorang gadis remaja.
Dia hendak mendaftarkan diri ke sebuah sekolah karena di sekolah yang lama dia tidak masuk ke kelas yang dia inginkan (kelas IPA).
Sambil menunggu Ibunya yang sedang diwawancarai oleh kepala sekolah, saya mengajak gadis ini untuk ngobrol.

Dari obrolan ringan kami, saya mendapati sesuatu yang membuat saya tersenyum dalam hati.
She is so like me.
Dia kritis.
Dia tahu apa yang dia inginkan.

Saya kritis.
Saya tahu apa yang saya inginkan.
Tapi lebih dari sekedar itu, saya tahu bagaimana berjuang untuk mendapatkannya.
Berjuang dengan jalan yang benar.

Perjuangan sedang dijalani dan akan terus dijalani..

Friday, July 10, 2009

tas favorit dan masa lalu


Hari ini saya membereskan kamar yang berantakannya sudah keteraluan.
Sebenarnya ini bukanlah hari pertama, tapi sudah hari yang kedua.
Heran rasanya kenapa cuma untuk ngeberesin kamar aja ga cukup satu hari.
Saya berpikir dan kemudian pikiran ini bermuara pada 3 kemungkinan jawaban.
Jawaban yang pertama adalah saya yang terlalu malas sehingga kerjanya jadi lelet.
Kedua, kamar saya yang memang terlalu berantakan.
Ketiga, menurut saya ini yang paling masuk akal, kamar saya yang terlalu besar kira-kira satu lapangan sepak bola luasnya. :D

Saya membereskan lemari yang berisi tas.
Beberapa tas yang sudah lama sekali tidak dipakai saya masukkan ke dalam satu kantung yang sekiranya nanti akan dihibahkan kepada siapa saja yang menginginkannya.
Tas-tas lainnya saya bereskan dan akhirnya saya menemukan satu tas favorit saya.
Dilema melanda.
Apakah tas ini akan dihibahkan atau bahkan dibuang saja karena kondisinya yang memang sepertinya tidak layak untuk dihibahkan?
Namun saya memilih untuk tetap menyimpannya.

Otak ini kemudian berfikir dan menganalogikan tas dengan seseorang di masa lalu saya.
Tas favorit saya ini nyaman sekali dipakai.
Saya sendiri yang memilihnya ketika akan dibeli.
Saya menambahkan beberapa aksesoris untuk memperindahnya.
Mungkin karena terlalu sering digunakan makanya tas ini menjadi rusak.
Tetapi apapun kekurangannya, benda itu tetap menjadi tas favorit saya.
Saya tetap menyimpannya di dalam lemari meskipun hanya akan menambah isi lemari dan membuat lemari itu semakin sempit dan sesak.

Lemari itu menggambarkan hati saya.
Saya tetap memilih menyimpan kenangan bersama dia di dalam hati saya.
Sebenarnya sih hati saya sudah cukup penuh dan sesak oleh hal-hal lainnya.
Kalau saya bijaksana saya seharusnya bisa lebih memilah hal-hal apa yang sudah seharusnya tidak lagi berada di dalamnya.


Susah rasanya membuang sesuatu yang merupakan kesukaan kita, seperti halnya saya membuang tas favorit saya.
Begitu juga dengan dia, sulit rasanya untuk membuangnya dari hati saya karena dia adalah pacar favorit saya, oops, mantan pacar favorit saya.