Thursday, December 31, 2009

Good bye envy, good bye jealousy!

Ada suatu perasaan mengenai kesenjangan sosial yang semakin terasa di tahun 2009.
Perasaan yang membuat rasa iri berhasil menyelimuti hati.
Rasa iri itu kian terakumulasi dari hari ke hari.
Sampai akhirnya hari terakhir di tahun 2009 pun tiba.
Sekitar 2 jam sebelum pergantian tahun, tokoh utama itu lewat di hadapanku.
Aku yang sedang memfokuskan diri untuk masuk ke dalam hadirat Tuhan pun terpaksa melihatnya.
Rasa sakit yang sekiranya ingin aku lupakan kembali hadir di dalam perasaan.
Sebelum aku sempat mencerna rasa sakit ini, sebuah hal yang luar biasa terjadi.
Ada bisikan hangat yang mengingatkanku akan berkat yang sudah aku terima selama ini.
Aku pun mulai mengingatnya dan mengucapkan syukur atas semuanya itu.
Air mata mulai mengalir.
Air mata bahagia.
Aku bangga karena aku telah berhasil mempersembahkan sesuatu untuk orangtuaku.
Aku mempersembahkan sesuatu yang merupakan hasil perjuanganku.

Mungkin dia memang memiliki materi yang lebih dari padaku.
Tapi aku punya prestasi yang lebih dari padanya.
Materi bisa saja pergi atau hilang dengan cepat, tapi prestasi yang kupersembahkan untuk orang-orang terkasih pasti akan selalu dikenang.

Tidak ada yang perlu dipikirkan lagi mengenai rasa iri ini.
Terlalu banyak memikirkannya bisa membuat sakit hati.
Akan lebih baik jika otak ini dipakai untuk memikirkan usaha selanjutnya untuk kembali menorehkan prestasi yang dapat dipersembahkan kepada orang-orang terkasih.
Membuat mereka bangga, itu sudah lebih dari cukup.

Sunday, November 29, 2009

Saya juga manusia. Saya masih manusia.

Maaf.
Ini kenyataannya.
Saya masih manusia.
Saya bukan dewi.
Saya bukan malaikat.
Masih ada daging yang melekat pada tubuh jasmani ini.

Saya sering tersenyum.
Namun saya juga cukup sering menahan amarah.
Tidak tahu bagaimana caranya mengekspresikan kemarahan ini, kekecewaan ini.

Walaupun kamu adalah segalanya, namun terkadang kamu tetap mengecewakan.
Saya tidak menyalahkanmu karena saya tahu kamu juga (masih) manusia.
Mungkin ada yang salah ketika kita berkomunikasi.
Saya tidak tahu bagaimana menyelesaikannya.
Saya hanya tahu bagaimana seharusnya saya bertindak.
Saya cukup puas dengan cara saya meresponi masalah ini.

Mungkin kamu butuh waktu.
Saya juga butuh waktu.
Tekanan yang belakangan ini menghampirimu mungkin sudah cukup berat.
Namun kamu perlu tahu, bukan cuma kamu yang mengalaminya.
Saya pun demikian.
Saya mengalami tekanan.
Beberapa mungkin sudah saya ceritakan, namun belum semuanya.

Saat ini mungkin kita hanya butuh waktu untuk sendiri.
Kamu butuh waktu untuk sendiri.
Aku butuh waktu untuk sendiri.
Kita tidak membiarkan waktu yang menyelesaikannya.
Waktu tidak bisa menyelesaikannya.
Hanya kita yang bisa menyelesaikannya.
Saat kita sudah sama-sama tenang, saat itulah kita akan menyelesaikannya.

Saturday, November 14, 2009

The more I know about you, the more I fall for you.

Shyt!

What the hell is going on with me?
Can somebody please tell me.

You are everywhere.
I just wanna run away from you.
It's so easy to know what you are doing, what do you have in your mind.
But it is so hard to know what you are thinking of me.
Do we have the same thought about each other?
I don't know.
I can't read your mind.
And you don't even tell me.
You are so good in keeping your feeling.
Not like me, I'm so bad in keeping my feeling inside.
I always talk to (at least) my friend(s).
It's so easy to read me.
I have nothing to hide.
I can't hide anything.
I always share it to people.
Just like my feeling to you.
I share it to my bestfriends.

Sunday, July 12, 2009

Excellent Sacrifice


Excellent sacrifice adalah salah satu kegiatan yang diadakan oleh gereja saya (JPCC) setiap tahunnya.
Tahun-tahun kemarin saya berpikir kalau hal ini hanya untuk mereka yang sudah berkerja saja, yang mempunyai penghasilan sendiri.
Namun tahun ini saya mendapatkan pengajaran bahwa siapa saja boleh turut ambil bagian.

Hati saya tergerak untuk terlibat.
Secara nominal mungkin ini tidak seberapa, namun ini adalah semua yang saya punya.
Semua.

Tidak ada perasaan menyesal sedikitpun.
Sebaliknya saya merasa sangat bersukacita.
I never experienced this kind of feeling before.
Seneng banget.
Ga ada tuh yang namanya perhitungan di dalam otak karena merasa rugi udah ngasih terlalu banyak.
Wow!
Semoga setiap kali saya memberi, saya akan merasakan hal ini.
Semoga ga ada lagi kalkulasi atau hitung-hitungan setelah memberi, terutama memberi untuk Tuhan.

Semoga perasaan memberi dengan mudah ini bukan karena itu adalah uang "gratisan", yang saya sisihkan dari uang yang saya peroleh "gratis" dari orang tua.
Semoga sampai nanti pun jika saya sudah memiliki penghasilan pribadi saya akan tetap memberi dengan penuh kesukaan.

I love You Lord!

Saturday, July 11, 2009

Mirip


Hari ini saya bertemu seorang gadis remaja.
Dia hendak mendaftarkan diri ke sebuah sekolah karena di sekolah yang lama dia tidak masuk ke kelas yang dia inginkan (kelas IPA).
Sambil menunggu Ibunya yang sedang diwawancarai oleh kepala sekolah, saya mengajak gadis ini untuk ngobrol.

Dari obrolan ringan kami, saya mendapati sesuatu yang membuat saya tersenyum dalam hati.
She is so like me.
Dia kritis.
Dia tahu apa yang dia inginkan.

Saya kritis.
Saya tahu apa yang saya inginkan.
Tapi lebih dari sekedar itu, saya tahu bagaimana berjuang untuk mendapatkannya.
Berjuang dengan jalan yang benar.

Perjuangan sedang dijalani dan akan terus dijalani..

Friday, July 10, 2009

tas favorit dan masa lalu


Hari ini saya membereskan kamar yang berantakannya sudah keteraluan.
Sebenarnya ini bukanlah hari pertama, tapi sudah hari yang kedua.
Heran rasanya kenapa cuma untuk ngeberesin kamar aja ga cukup satu hari.
Saya berpikir dan kemudian pikiran ini bermuara pada 3 kemungkinan jawaban.
Jawaban yang pertama adalah saya yang terlalu malas sehingga kerjanya jadi lelet.
Kedua, kamar saya yang memang terlalu berantakan.
Ketiga, menurut saya ini yang paling masuk akal, kamar saya yang terlalu besar kira-kira satu lapangan sepak bola luasnya. :D

Saya membereskan lemari yang berisi tas.
Beberapa tas yang sudah lama sekali tidak dipakai saya masukkan ke dalam satu kantung yang sekiranya nanti akan dihibahkan kepada siapa saja yang menginginkannya.
Tas-tas lainnya saya bereskan dan akhirnya saya menemukan satu tas favorit saya.
Dilema melanda.
Apakah tas ini akan dihibahkan atau bahkan dibuang saja karena kondisinya yang memang sepertinya tidak layak untuk dihibahkan?
Namun saya memilih untuk tetap menyimpannya.

Otak ini kemudian berfikir dan menganalogikan tas dengan seseorang di masa lalu saya.
Tas favorit saya ini nyaman sekali dipakai.
Saya sendiri yang memilihnya ketika akan dibeli.
Saya menambahkan beberapa aksesoris untuk memperindahnya.
Mungkin karena terlalu sering digunakan makanya tas ini menjadi rusak.
Tetapi apapun kekurangannya, benda itu tetap menjadi tas favorit saya.
Saya tetap menyimpannya di dalam lemari meskipun hanya akan menambah isi lemari dan membuat lemari itu semakin sempit dan sesak.

Lemari itu menggambarkan hati saya.
Saya tetap memilih menyimpan kenangan bersama dia di dalam hati saya.
Sebenarnya sih hati saya sudah cukup penuh dan sesak oleh hal-hal lainnya.
Kalau saya bijaksana saya seharusnya bisa lebih memilah hal-hal apa yang sudah seharusnya tidak lagi berada di dalamnya.


Susah rasanya membuang sesuatu yang merupakan kesukaan kita, seperti halnya saya membuang tas favorit saya.
Begitu juga dengan dia, sulit rasanya untuk membuangnya dari hati saya karena dia adalah pacar favorit saya, oops, mantan pacar favorit saya.

Saturday, April 18, 2009

Menemani mamski di rumah sakit.

Peace!


Cium tangan.


Jabat tangan.


(sok) heran


Cemilan yang menemaniku.

Tuesday, March 31, 2009

Sulitnya menaklukkan kemacetan jalanan ibukota

Ampun-ampun sama jalanan Jakarta hari ini.
Hampir 4 jam saya menempuh perjalanan Karawaci-Pulomas.
Hampir 2 kali lebih lama dari yang biasanya.
Apa sebabnya yaa sampe bisa semacet ini?
Hujan?

Antrian di halte Dukuh Atas 2 cukup panjang.
Saya berusaha bersabar untuk tetap berdiri di antrian.
Begitu banyak orang yang tidak tau budaya mengantri.
Ingin rasanya menegur orang-orang tersebut tapi saya terlalu malas untuk bersuara.
Saya terlalu lelah karena malam sebelumnya saya hanya beristirahat sekitar 2 jam.
Saya yang biasanya sabar menunggu, kali ini sudah tidak bisa lagi.
Saya putuskan untuk keluar dari shelter dan mencari taksi.
Taksi tak ada yang kosong.
Tak ada pula ojek.
Berjalanlah saya menyusuri landmark tower.
Berjalan dengan sangat lusuh ditemani seorang teman diujung telepon.
Pada satu titik saya berhenti.
Menunggu secercah harapan untuk melihat kendaraan yang dapat membawa saya sampai di rumah.
Ada ojek, tapi sayang harga yang ditawarkan kurang masuk di akal saya.
Ada taksi kosong, namun ketika saya mendekat, saya harus menerima lambaian tangan dari pak supir yang menandakan jika ia tidak mau mengantarkan saya ke rumah.
Sedih rasanya.
Hampir saya menangis di pinggir jalan.
Tapi tangisan saya diwakili oleh hujan yang mulai turun rintik-rintik.
Ibunda tercinta sudah kebingungan, ingin menjemput dengan motor tapi pasti akan memakan waktu, apalagi dengan mobil pasti akan memakan waktu lebih lama.
Di ujung jalan saya melihat si burung biru.
Namun sayang ketika saya hendak mendekat lampunya mati dan menandakan bahwa taksi itu sudah terisi.
Akhirnya, setelah sekian lama, ada pula kendaraan yang mau 'memindahkan' saya ke satu titik yang lebih nyaman bernama rumah.
Saya telusuri jalanan yang penuh dengan genangan air.
Ditemani angin malam yang semakin membuat hidung ini terasa mampet dan batuk menjadi semakin parah.

Akhirnya, rumah tercinta sudah terlihat.
Betapa senang rasanya hati ini.
Semoga kejadian ini tidak terulang lagi.
Capek rasanya harus bergelut menaklukkan kemacetan jalanan ibukota.

Tuesday, March 24, 2009

I have a community called DATE.
Such a great place to grow together, learn the Word of God.

Hampir 3 tahun lamanya saya berada di dalam komunitas ini.
Ada beberapa teman yang cukup dekat dengan saya.
Tapi satu per satu mereka mulai pergi.
Pertama, kami terpisah karena multiplikasi yang dilakukan.
Kedua, kami terpisah karena dia diterima di Universitas di Bandung.
Ketiga, kami terpisah karena dia melanjutkan pendidikan di Australia.
Dan malam ini, datanglah yang keempat.
Kami terpisah karena dia diterima bekerja di perusahaan multinasional yang berkedudukan di Kalimantan.
Sedih rasanya mendengar kabar ini.
Beberapa tetesan air mata menjadi ungkapan kesedihan.
Tapi jauh di dasar hati, saya tersenyum bahagia untuk mereka.
I'm happy for them, for what they have achieved in their life.

I'm still here.
Going nowhere.
But it doesn't mean that I'm not growing.

Monday, March 23, 2009

"Age is no guarantee of maturity."
Lawana Blackwell


I couldn't agree more.
I have experienced it myself.


Thursday, March 19, 2009

Type your name into Google with the word needs in quotes. For example: "(your name here) needs". Write the first 10 results.
  1. Stella needs her groove back.
  2. Stella needs another fella.
  3. Stella needs to believe in herself.
  4. Stella needs interns.
  5. Stella needs brakes.
  6. Stella needs a caption.
  7. Stella needs special attention.
  8. Stella needs some help.
  9. Stella needs a show name.
  10. Stella needs our prayers right now.
It's just for fun and really funny.
At least I can smile in the middle of the pressure of many assignments.
Some of them are true. :-)

Pemandangan Jakarta pagi ini.
Ternyata tidak hanya kendaraan saja yang mengalami kemacetan.
Manusia pun mengalami yang namanya kemacetan.

(Gambar diambil dari dalam metromini di daerah simpang Senen, Jakarta Pusat)

Wednesday, March 18, 2009

Feel Bad

It was not a bad day, but I felt bad.

I hate the fact that Ellen and I have the same topic for our final project this semester in Functional Foods subject.
I don't wanna blame her, I don't wanna blame myself, neither the lecturer.
I sent an e-mail about my topics to the lecturer two days ago while Ellen talked to her face-to-face about her topic the next morning.
The lecturer did not check her email, so she didn't know that the topic that Ellen chose is the same with mine.

Then, Ellen told me that she has changed her topic so I can go with my chosen topic.
I didn't feel relieve at all, in contrast, I felt bad.
But I didn't know what to do.
I have searched the materials that are needed, and I have started doing on the powerpoint.

The issue it's not only about that.
When I was working on my assignments in my room, my mom came in and said: Didn't you hear that I was puking?
I said no because my iTunes is quite loud.
And she said that she puked twice in the bathroom and the bathroom is exactly next to your room. How come you didn't hear that?
I said nothing.
She went out of my room.
Right after she left me, I felt really bad.
Was I too focused on my assignments and ignored what was going on in my surrounding?

Am that careless?
Or am I just too sensitive because of the pressure that I felt lately?

Inilah kemacetan yang harus saya lewati hari ini.
Begitu keluar tol di Tomang, langsung disambut kemacetan parah.
Ada apa dengan Jakarta sore tadi?

Sunday, February 15, 2009

Kisah Sang Ibu dan Ketiga Putrinya

Seorang ibu yang sangat berjiwa besar.
Ibu yang sangat dikagumi oleh si bungsu.

Namun si ibu seringkali merasa bahwa ia adalah seorang ibu yang gagal membesarkan anak-anaknya.

Anaknya yang pertama, seorang single parent.
Dia menggeluti usaha di bidang kuliner dan dapat dikategorikan sukses.
Namun sang anak ini tengah terlibat cinta terlarang bersama mantan karyawannya sendiri.
Ibu sangat tidak menyukai hubungan terlarang ini.
Beliau sangat menentangnya.
Apalagi firasatnya sebagai seorang ibu mengatakan bahwa 'pacar' dari si sulung ini hanya memanfaatkan harta yang dimiliki anaknya untuk kesenangannya semata.
Dan entah mengapa nampaknya si sulung sangat membela 'pacar'nya ini.
Anak-anaknya yang hidup di lain pulau seperti dihiraukan.
Selalu saja ada alasan atau komplain yang ia lontarkan saat ia harus mengirimkan uang untuk kedua putranya.
Sepertinya ia lebih memilih untuk memberikan uang pada 'pacar'nya daripada anak-anaknya sendiri.
Ia lebih memilih untuk menghabiskan waktu bersama sang pacar ketimbang ibu kandungnya.
Sang ibu tidak menuntut banyak.
Beliau hanya ingin si sulung menjadi orang tua yang baik bagi kedua putranya.
Menjadi ibu yang bertanggungjawab atas kedua putranya.
Lebih mementingkan kedua belah hatinya daripada sibuk dengan kepentingan pribadi.
Lebih mendahulukan keluarga daripada 'pacar' yang memanfaatkannya saja.
Sang ibu tak menuntut materi, ia hanya butuh quality time.


Putri keduanya, seseorang yang memutuskan untuk menikah di usia belia.
Usianya akan menginjak angka 23 tahun dalam beberapa hari ke depan.
Dia mempunyai seorang putra yang sekitar tujuh bulan lagi akan merayakan ulang ke-4.
Si anak tengah ini tinggal bersama ibunya.
Ia dan suaminya membuka usaha kecil-kecilan di rumah, masih di bidang kuliner tentunya, mungkin bakat di bidang ini diwariskan dari sang Ibu.
Namun sepertinya si anak tengah ini merasa jiwa mudanya terbelenggu.
Ia rindu kebebasan anak-anak muda seusianya.
Ia pun sering bepergian dengan teman-teman sebayanya yang notabene masih berstatus lajang.
Ia seolah merasa sejajar dengan mereka.
Ia memang sejajar dengan mereka dalam hal usia, namun dalam hal status mereka sangatlah berbeda.
Si anak tengah merupakan seorang istri dan seorang ibu.
Sang ibu juga tidak banyak menuntut banyak pada anak keduanya.
Beliau hanya ingin anaknya menyadari perannya, sebagai seorang istri dan seorang ibu.
Beliau ingin putrinya ini memainkan peran yang utuh dalam mengurus suami dan putranya.
Beliau ingin anaknya bertanggung jawab atas keputusannya menikah di usia belia, yang berarti melepaskan masa-masa indah penuh kebebasan demi mengurus keluarga.

Si bungsu.
Putri ketiga dari ibu yang dinobatkannya sebagai IBU LUAR BIASA.
Dia belajar banyak dari kedua kakaknya.
Si bungsu sangat dekat dengan ibunya.
Jika ia mengalami sesuatu, pasti langsung ia ceritakan pada sang ibu.
Begitu pula sang ibu, ia sangat terbuka pada anak bungsunya ini.
Mereka sering menghabiskan waktu bersama hanya sekedar untuk ngobrol.
Dari obrolan antara keduanya, si bungsu merasa bahwa sang ibu merasa gagal mendidik anak-anaknya.
Si bungsu sangat sedih setiap kali ia mendengar keluhan yang keluar dari mulut sang ibu tentang kedua orang kakaknya.
Ia merasakan kesedihan yang sama.
Jiwa dagang sang ibu memang tak terwariskan padanya, tapi kelembutan dan kepekaan hati ini ia yakini berasal dari sang ibu.
Di dalam setiap keluhan yang keluar dari mulut sang ibu, hati si bungsu menangis.
Ia mencoba untuk tetap tegar dalam mendengarkan segala keluh kesah sang ibu.
Semakin sering sang ibu datang bercerita kepadanya, semakin kepahitan itu meracuni hatinya.
Ia tidak merasa benci kepada kedua kakaknya, tapi ia benci karena tidak bisa melakukan apapun.
Tak ada keberanian sedikitpun untuk menegur mereka atau sekedar memberi sinyal bahwa ada sesuatu yang tidak beres.
Tak sanggup lagi si bungsu mendengarkan keluhan dari sang ibu.
Semakin sering sang ibu mencurahkan isi hati kepadanya, maka semakin pedihlah hatinya melihat kenyataan bahwa tak ada yang dapat dilakukannya untuk memperbaiki semua ini.
Namun jika ia berhenti mendengarkan, kepada siapa lagi sang ibu dapat mencurahkan isi hatinya?
Si bungsu mencoba bertahan.
Ia juga membutuhkan seseorang untuk mendengarkannya.
Biasanya ia selalu bercerita pada sang ibu, namun kali ini tidak mungkin rasanya ia bercerita kepada beliau.
Ia hanya menyimpannya sendiri di dalam hati.
Ia ingin sekali berteriak agar beban di dalam hatinya terasa sedikit lebih ringan.
Ia pun memilih berteriak di dalam hatinya.
Biarlah lengkingan ini hanya di dalam hatinya saja dan kekecewaan itu hanya keluar dari tetesan air mata dalam kamar gelapnya yang membuatnya lelah hingga larut dalam tidur malam.

Sunday, February 08, 2009

25 Random Things About Me

Berawal dari notes di facebook yang sedang ramai diperbincangkan oleh para facebook mania (halah), maka saya pun ikut meramaikan dunia per-notes-an di facebook, dan inilah hasilnya:

1. Salah satu alasan saya memiliki rambut panjang adalah sebagai wujud balas dendam.

2. Sudah punya nama untuk anak perempuan saya kelak.

3. Pernah merasakan perjalanan Karawaci-Pulomas selama 3.5 jam.

4. Pernah bercita-cita jadi dokter ortopedi dan dokter misionaris (sampai sekarang masih kepingin).

5. Merasa bahwa kebiasaan mandi lama adalah kebiasaan yang diturunkan sama papa.

6. Suka banget sama warna ungu dan ijo.

7. Tidak percaya sama reality show.

8. Pengen banget mengeluarkan lemari-kayu-jati-super-bes
ar dari kamar (bikin sempit) dan menggantinya dengan lemari yang lebih simple.

9. Sudah 4 bulan terakhir mencuci dan menyetrika pakaian sendiri.

10. Suka banget sama serial tv House MD.

11. Suka sekali sama bahasa Inggris dan suka berbicara dengan bahasa Inggris (sayangnya ga pernah percaya diri).

12. Suka sama cowok pintar (seperti Pandji Pragiwaksono).

13. Masih belum bisa ngelupain anjing kesayanganku si Hepi, masih suka merasa mencium baunya.

14. Sedang khawatir sekali sama lutut kirinya yang kemarin bunyi cukup keras saaat fisioterapi dan lutut kanan yang sekarang sudah mulai ikutan sakit.

15. Suka banget sama Kota Bandung.

16. Ingin melanjutkan kuliah s2 di Cornell University atau somewhere di Switzerland.

17. Always amazed by God every single second in my life.

18. Suka bete sama rambutku yang lurus dan kadang-kadang lemes banget.

19. Sering merasa insecure.

20. Sangat-sangat-sangat melankolis.

21. Semenjak kuliah bioteknologi, semakin tahu bahwa Tuhan itu dahsyat, Dia menciptakan semuanya begitu detail.

22. Senang karena bisa membuat orang tua bangga, suka terharu kalau lihat mereka cerita dengan mata yang berbinar-binar ke saudara-saudara atau teman-teman mereka tentang achievement-ku. Senang melihat mereka bahagia.

23. Sangat mendukung kemajuan dunia film Indonesia dan selalu menonton film-film Indonesia di bioskop (dengan catatan harus film yang berkualitas).

24. Suka nonton bioskop sendirian.

25. Percaya sama SEASON. Percaya bahwa semua itu ada waktunya dan Tuhan akan menjadikan semuanya itu indah pada waktunya.

Sunday, January 25, 2009

Mendengarkan Dalam Keheningan

Saya mempunyai seseorang yang sangat membutuhkan saya untuk menjadi pendengarnya.
Dia sangat membutuhkan saya untuk mendengarkan segala keluh kesahnya.
Saya selalu berusaha untuk menjadi pendengar yang baik untuknya.
Namun rasanya sulit sekali.
Seringkali saya merasa bosan menjadi pendengar.
Saya bosan mendengarkan segala keluhannya.
Tapi saya tahu persis bahwa hanya saya-lah yang dia miliki untuk menjadi pendengarnya.

Tapi saya harus belajar dan saya MAU belajar untuk menjadi pendengar yang baik.

***

Hari ini saya mendapatkan pengajaran tentang 'The Art of Listening" dari Ps. JR.
Mendengarkan merupakan sesuatu yang penting dan berguna.
Mendengarkan butuh kedewasaan karena saat kita mendengarkan, semuanya bukan tentang kita melainkan tentang orang lain (put interest in other people).
"Anak kecil" (baca: orang yang belum dewasa) tidak bisa melakukannya dengan baik karena mereka berprinsip: It's all about me, sehingga menyulitkan untuk bisa put the interest in other people.

Hearing: telinga menyerap gelombang suara.
Listening: perlu interpretasi, evaluasi, pengertian, ingatan, dan respon.
"To listen is an effort, and just to hear is no merit. A duck hears also." -Igor Stravinsky
Diperlukan effort untuk bisa mendengarkan/menyimak (listening).
Jadi, hampir dapat dipastikan bahwa listening jauh lebih sulit daripada hanya sekedar hearing.
I wanna do an effort to listen and some more extra efforts to be a good listener.

The art of communication is based on listening.

Tuhan menganugerahkan kita satu mulut dan dua telinga agar kita lebih banyak mendengar daripada berbicara.

"When you talk, you say something you already know, and when you listen, you find out what someone else knows." -Zig Ziglar

Keuntungan mendengarkan:
  1. Mendengarkan merupakan tanda/bentuk kasih.
  2. Mendengarkan merupakan tanda menghormati, apresiasi.
  3. Melalui mendengarkan kita dapat mengenali nilai/prinsip hidup seseorang.
Semakin banyak kita mendengar, semakin kita mengenal lawan bicara kita.

Namun hati-hati terhadap apa yang kita dengar karena hal ini bisa membangun namun juga dapat melemahkan kita.
Setelah kita selesai mendengarkan curhatan seseorang, kita bisa memilih untuk langsung men-delete atau mau mengambil suatu pelajaran dari cerita yang kita dengar.

Tips on how to be a good listener:
  1. Fokus kepada apa yang dikatakan.
  2. Hindari menyatakan pendapat sebelum pembicara menyelesaikan perkataannya. (Remember, most of the time people just need to be listened, tidak perlu memberi pendapat/solusi. Namun jika mereka menanyakan pendapat/solusi dari kita, maka berikanlah).
  3. Ulangi dalam bentuk ringkasan untuk memastikan anda mempunyai pengertian yang sama dengan pembicara. (Contohnya adalah pelayan restoran yang baik adalah mereka yang mengulangi pesanan dari pelanggan untuk memastikan bahwa mereka tidak salah mencatat apa yang mereka dengar).
  4. Perhatikan gaya tubuh pada saat orang lain berbicara.
  5. Cobalah untuk mengerti si pembicara, bukan mencoba untuk menarik konklusi sendiri tentang siapa dia atau siapa dia seharusnya.
Mendengar akan lebih mudah dalam keadaan yang hening daripada dalam keramaian.
Mengapa seringkali kita tidak bisa atau sulit mendengar suara Tuhan? Jawabannya sederhana: karena hidup kita terlalu bising.
Saya ingin mempunyai hidup yang 'hening' supaya bisikanNya dapat saya dengar dengan baik.

Saya ingin mendengarkan dalam keheningan.

Saturday, January 24, 2009

Should I....?

Niat hati ingin mengerjakan tugas yang sudah diberikan.
3 presentasi dalam waktu 2 minggu.
Cukup banyak tugas yang saya dapat dalam seminggu ini.
Perkuliahan memang sudah dimulai dari 2 minggu yang lalu, tapi resmi 'dibuka' minggu ini setelah seminggu pertama dipakai sebagai drop and add period.
Drop and add period.
Masa-masa yang sebenarnya tidak terlalu penting bagi saya pada semester-semester sebelumnya karena semuanya telah diurus oleh jurusan yang telah menjanjikan 'paket hemat' sampai semester terakhir.
Tapi apa mau dikata, saya harus juga menjalani masa ini.
Menunggu di kampus tercinta sampai matahari terbenam demi mendapatkan kepastian untuk bisa mendapat kelas Academic Writing.
Salah satu mata kuliah umum yang wajib diambil.
Saya dan Eric harus terpisah dari teman-teman yang lain karena nama kami berada pada dua urutan terbawah.
Kelas ini dibatasi untuk 25 mahasiswa saja.
Nasib.
Tapi tak ada yang bisa kami lakukan.
Tak ada yang bisa saya lakukan.
Pasrah adalah pilihan yang tepat.
Kalau saya tidak mengambil kelas Academic Writing semester ini, saya harus menunggu satu tahun lagi karena kelas ini hanya dibuka pada semester genap.
Kalau saya tidak mengambil kelas Academic Writing semester ini, jumlah SKS minimal untuk memenuhi syarat beasiswa tidak terpenuhi.
Tidak ada mata kuliah lain yang bisa saya pakai sebagai pengganti karena semua sudah ada dipaketkan, 'paket hemat'.
Konsekwensinya, saya harus mengikuti kelas ini bersama teman-teman dari jurusan lain. Bukan masalah yang besar.
Tapi saya harus merelakan 'jadwal kuliah yang sempurna', yang sejak semester awal telah diatur sedemikian rupa sehingga hari Jumat adalah 'kuliah setengah hari'.
Tidak pernah ada kuliah pada hari Jumat siang (kecuali beberapa kuliah pengganti).
Namun semester ini, saya harus melepaskan 'kuliah setengah hari'.
Senin-Jumat, 08.10-16.20.
Sudah saatnya keluar dari comfort zone.

3 tugas presentasi yang merupakan tujuan awal saya 'bercinta' dengan si putih yang mulai dekil ini, belum terlaksana sama sekali.
Saya masih terkesima dengan buku yang baru saja selesai saya baca.
L.
L berhasil saya lahap kurang dari 24 jam.
Saya sibuk mencari orang di belakang L.
Biografi singkatnya di halaman 394 memudahkan saya untuk menemukannya.
Saya menemukannya.
Saya ingin memberitahu orang tersebut betapa buah karyanya sangat 'berbicara' pada saya.
Yang pada akhirnya membuat saya bertanya: Should I...

Should I quit?

Wednesday, January 21, 2009

dikalahkan oleh hormon

Hari Minggu tanggal 18 Januari 2009, saya dikalahkan oleh hormon.
Saya menyadari jika pada saat itu kadar hormon estrogen saya menurun dan di sisi lain saya mengalami peningkatan hormon progesteron. Keadaan ini mempengaruhi seluruh produksi hormon di dalam tubuh, terutama hormon serotonin yang merupakan neurotransmitter yang mengendalikan kestabilan emosi.

Saya berada di sebuah restoran di daerah Jakarta Pusat untuk makan siang bersama dua orang terpenting dalam hidup saya, Mama dan Yutha. Saat sedang menunggu makanan pesanan kami, Yutha melakukan kenakalan kecil yang rasanya wajar dilakukan bocah berusia 3 tahun sepertinya. Saya berteriak, ya berteriak, memarahinya. Mama begitu terkejut melihat kemarahan yang tidak seharusnya. Beberapa pasang mata kemudian melihat ke arah saya, membuat saya merasa dihakimi. Seketika itu juga saya tersadar, tidak seharusnya saya dikalahkan oleh hormon-hormon ini. Saya harus bisa memegang kontrol atas kestabilan emosi saya sendiri. Saya harus bertindak lebih rasional.
Maafin Ade ya Ma.
Maafin Auntie ya De.

Tuesday, January 06, 2009

My first vision ever.

Hari minggu tanggal 4 Januari 2009 merupakan service pertama JPCC di tahun ini.
Saya memutuskan untuk datang pada SNS service. Setelah perdebatan batin diselesaikan, jadilah SNS ibadah pertama saya tahun ini.

Sebelum mengawali sermonnya, Ps. Jose mengajak jemaat untuk bow their heads and close their eyes, lalu berdoa. Saat itu beliau berdoa untuk bangunan baru bagi gereja kami, terletak di tengah-tengah kota, dengan luas sekian ratus meter persegi (saya lupa angka pastinya), tempat parkir yang luas, dengan elevator, and so on.
Kemudian Ps. Jose menanyakan seberapa banyak orang yang dapat melihat gedung seperti yang beliau sebutkan ketika berdoa. Saya sedikit mendapat gambaran ketika berdoa. Saat beliau menyebutkan gedung yang lebih besar, saya melihat gedung yang lebih besar. That’s a vision.

Ps. Jose memberi judul ‘When I close my eyes’ untuk sermon pertamanya di tahun ini. I really got many things in this service. Let me share..

Di tahun 2009, sudah banyak prediksi mengenai kondisi politik, ekonomi, sosial, keamanan, dsb.
Krisis akan terus terjadi di dunia ini. Tapi sebagai orang percaya kita tidak akan kekurangan apapun. Just close your eyes, and you’ll see the bright future. Tuhan tidak mengabaikan realita yang terjadi. Yeremia 17:7-8 mengatakan bahwa tahun kering itu memang ada, tapi kita akan tetap menjadi daun yang hijau, yang tidak mengalami kekeringan, as long as we believe and put our hope in Lord.
With vision, you will:
- able to see beyond reality
- able to see opportunity.

Then, he asked us to close our eyes (again), and he started praying for our futures, our jobs, our careers, our marriages, our relationships, our studies, etc.
And,
as I closed my eyes and prayed, I see my first vision ever.
I was trembling.

Apa yang kamu lihat tentang masa depanmu saat kamu memejamkan matamu?
Vision is the tension of what is and what to be.

Friday, January 02, 2009

I'm smart, that's why I choose to move on..

Sedikit gubahan dari beberapa bait lagu Rihanna sepertinya cocok untuk menggambarkan sesuatu.
Sesuatu yang abstrak..

I look so dumb right now
Standing outside his heart
Trying to apologize
I'm so ugly when I cry
Please, just cut it out


(I really want to cut this thing out, seriously!)

Grab your clothes and get gone
You better hurry up before the sprinklers come on
Talkin' about, girl, I love you, you're the one
(Bullshit man!)
This just looks like the re-run
Please, what else is on



And the award for the best liar goes to you
For making me believe that you could be
Faithful to me
Lets hear your speech out


How about a round of applause
A standing ovation

But now it's time to go
Curtain's finally closing
That was quite a show
Very entertaining
But it's over now
But it's over now


(Yeah, it's over!)
I'm not gonna be dumb anymore.
I'm so tired of this..
I'm sick of this..
I'm trying hard to believe that you'll be faithful to me.
That you'll keep our promise just like I do..
You're such a player with your big mouth..

Today is the last day of 2008.
And I think it's over.
The 'game' is over (for you it's just another game, rite?)

No more story of you in 2009.
No more tears come down from my eyes when I remember you.
You don't deserve this.


I'm smart, that's why I choose to move on..