Hari Minggu tanggal 18 Januari 2009, saya dikalahkan oleh hormon.
Saya menyadari jika pada saat itu kadar hormon estrogen saya menurun dan di sisi lain saya mengalami peningkatan hormon progesteron. Keadaan ini mempengaruhi seluruh produksi hormon di dalam tubuh, terutama hormon serotonin yang merupakan neurotransmitter yang mengendalikan kestabilan emosi.
Saya berada di sebuah restoran di daerah Jakarta Pusat untuk makan siang bersama dua orang terpenting dalam hidup saya, Mama dan Yutha. Saat sedang menunggu makanan pesanan kami, Yutha melakukan kenakalan kecil yang rasanya wajar dilakukan bocah berusia 3 tahun sepertinya. Saya berteriak, ya berteriak, memarahinya. Mama begitu terkejut melihat kemarahan yang tidak seharusnya. Beberapa pasang mata kemudian melihat ke arah saya, membuat saya merasa dihakimi. Seketika itu juga saya tersadar, tidak seharusnya saya dikalahkan oleh hormon-hormon ini. Saya harus bisa memegang kontrol atas kestabilan emosi saya sendiri. Saya harus bertindak lebih rasional.
Maafin Ade ya Ma.
Maafin Auntie ya De.
No comments:
Post a Comment